Lagi-lagi di malam hari, di jam yang sama di postingan sebelumnya, acara yang sangat bergengsi dan tentunya banyak dihadiri manusia-manusia yang memiliki pengaruh di Indonesia. Mereka adalah orang-orang dengan jiwa kreatif yang bukan hanya memikirkan tapi juga menciptakan sebuah karya. Mereka adalah panutan banyak orang, termasuk saya.
Malam itu, meskipun angin dingin terus-menerus menabraki dirinya menuju wajah, tangan dan kaki, seolah kami menantang arus mereka, dengan terus melihat jam pada layar ponsel karena takut terlambat dalam acara yang paling ditunggu-tunggu makhluk 'perusak' seantero nusantara, kami tidak merasa terusik sedikitpun. Dia tetap konsisten mengendarai sepeda motornya, dan saya tetap konsisten melihat layar ponsel. Entah apa yang ada dibenak kami, sungguh, ini adalah ke-sekian kalinya menghadiri acara dengan bintang tamu walikota sendiri. Walikota yang katanya super sibuk namun menghasilkan tingkat kebahagiaan di kota ini naik katanya.
Lokasinya cukup jauh, berada di utara kota. Tempat yang memang sudah biasa dijadikan pameran, seminar, workshop, dll. Disertai instalasi-instalasi menakjubkan yang membuat kamera perlu bekerja penuh di malam itu. Kami menghadiri sebuah pameran besar dengan karya-karya dari setiap kampus terkemuka di Indonesia. Karya terbaik yang bernilai estetis tinggi.
Dia yang ditunggu-tunggu pun datang dengan ajudannya. Sosok yang gagah berkharisma dan ramah ini menyampaikan pidatonya yang disisipi dengan candaan khas sehingga membuat kami tertawa. Dia menyampaikan banyak hal tentang profesinya. Dia lah Ridwan Kamil. Tak lama, ia harus pergi lagi untuk menghadiri rapat bersama kepala desa.
Setelah pidato pembukaan itu berakhir, seluruh peserta yang hadir akhirnya diperbolehkan masuk ke ruang pameran. Kami dan semua teman-teman yang hadir bersama-sama mengapresiasi karya yang dipajang dengan berbagai konsep menarik dan unik. Bersama orang-orang hebat yang saat itu wajahnya dapat dilihat dalam jarak yang sangat dekat. Luar biasa.
Kami akhirnya sampai pada karya terakhir yang penuh perjuangan untuk bisa melihatnya karena antrian panjang para peserta yang hadir. Sungguh ini adalah pengalaman yang luar biasa. Entah kapan almamater ini dapat membuat sebuah acara yang sebegini besarnya. Akhirnya kami beserta teman-teman yang lain duduk di sebuah amphiteater sambil menyantap makanan ringan yang disediakan. Menikmati malam yang dingin, diselimuti instalasi bambu, dengan latar gelak tawa dan ceria, membuat suasana saat itu terasa hidup.
Tiba-tiba seorang dengan tubuh tinggi, rambut yang agak ikal rapi, dan wajahnya yang cantik mengenakan pakaian tradisional sunda menghampiri kami dan memberikan jabatan tangan. Dia adalah seorang yang terkenal sebagai principal sebuah konsultan. Dia juga sering ditawari menjadi moderator dalam acara-acara besar yang bergengsi. Beliau adalah Sarah Ginting. Sosok wanita yang menginspirasi kami dengan perkataanya malam itu yang membawa semangat. Beliau tetap ramah, bukan hanya kepada rekan seprofesinya saja, melainkan kepada kami, para bocah-bocah yang belum tahu apa-apa soal dunia kami. That was so amazing..
Ya, acara itu membuatku sadar akan satu hal.
Arsitektur itu menyenangkan.
Bandung, 2 September
Pameran Arsitektur Indonesialand 2016
Selasar Sunaryo Art & Space
Jujur, sebenernya agak setengah-setengah, mungkin karena cuaca sudah mulai tidak bersahabat. Hari itu adzan magrib sudah mulai menggelorai panorama. Sayangnya suara itu tersamarkan dengan ricuhnya bunyi hujan yang jatuh di atas kanopi rumah. Dia sudah datang menjemput sebelum hujan membesar. Acara pun akan dimulai satu jam lagi. Bukan lokasi yang dekat sehingga kami harus pergi lebih awal. Namun dengan kondisi seperti ini kami mengurungkan niat untuk bergegas pergi.
Saat itu aku harus membatalkan puasa bayar hutangku. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menyebrangi jalan dan memesan sepiring makanan di sebuah warung langganan. Tak lama, teman kamipun datang. Kami memang janji untuk pergi bersama-sama, sebelum adzan magrib berkumandang. Sekali lagi, ini karena kuasa Tuhan. Kami tak bisa apa-apa.
Hingga akhirnya hujan pun reda berbarengan dengan habisnya santapan di piring-piring. Kami pun sholat terlebih dahulu sebelum berangkat menuju lokasi. Ini adalah kali pertama saya mengikuti acara sharing bersama mereka-mereka yang sudah memiliki pengalaman lebih ketimbang kami, yang hanya mahasiswa semester V, yang hobinya main, nonton, dan so-so-an baca buku namun tidak pernah berhasil menyimpan ilmunya dalam waktu lama.
Sempat terbesit pertanyaan tentang acara itu. Mungkin karena pengaruh kata "sharing" yang tertulis dalam pamfletnya. Satu kata yang membawa pengaruh dan menimbulkan tanya seperti apa yang akan mereka sampaikan, apakah saya perlu melontarkan pertanyaan, bagaimana bila saya tiba-tiba mengantuk saat mereka membawakan materi. Hal-hal kecil yang cenderung tidak penting itu sempat melintas di pikiran ini.
GPS pun akhirnya menampilkan titik terakhir, tandanya kami sudah sampai di lokasi. Gelap, sepi, kosong, seperti tempat kejadian perkara kasus kriminal. Sebenarnya tempat apa ini. Berada di ujung jalan yang tidak pernah dilalui pengunjung. Tidak ada tanda-tanda peserta lain yang datang kesini. Satpampun akhirnya menjadi objek satu-satunya yang dapat kami percaya, dengan memberikannya alamat, ia pun menunjukkan lokasi gedungnya. Ternyata lokasinya ada dibalik gedung yang gelap itu. Sebaliknya, gedung ini penuh kehangatan, ramai, nyaman, dan terang. Sungguh dua hal kontras yang membuatku heran kenapa mereka mesti memilih lokasi ini.
Kami menyusuri anak-anak tangga hingga sampailah kami di lantai 3. Ruangan itu bukanlah ruangan besar yang cukup untuk menampung banyak peserta, bahkan sebagian yang hadir terpaksa berdiri karena kurangnya kursi. Mungkin sebaiknya acara ini lebih baik dibuat lesehan saja dari pada menjadi orang yang harus menyaksikan acara kurang lebih tiga jam dengan berdiri, bilur hati merambah...
Acara kemudian dibuka dengan MC yang 'kece abis'. Bukan hanya MC tapi semua yang menghadiri acara ini rata-rata memiliki penampilan yang baik. Mereka terlihat terawat, mengikuti perkembangan zaman, dan yang pasti berduit. Itu hal yang wajar karena sebagian besar yang hadir adalah mereka yang sudah memilki karir cemerlang di bidangnya.
Akhirnya dua orang pemateri dari dua buah konsultan pun telah selesai memaparkan portofolio super mereka yang salahsatunya disertakan dengan animasi yang sejak dulu saya sangat ingin membuat animasi seperti itu. Semua seolah nyata dengan bantuan aplikasi digital. Semua nampak indah dan wah. Karya-karya mereka yang istilahnya dikerjakan dalam waktu seminggu, mungkin dapat saya kerjakan dalam waktu 6 bulan. Mereka hebat dan memang mereka ahli dalam hal itu. Mereka mengerjakan sesuatu yang menjadi passion mereka dan sesuatu itu menjadi keuntungan materil bagi mereka.
Runtutan hasil-hasil desain di berbagai tempat dengan berbagai sudut pandang yang memberikan inspirasi bagi jiwa-jiwa pengumpul materi. Indah dipandang, seolah ingin setiap tugas menjadi sesempurna yang ditampilkan di layar. Semoga. Entah kapan tapi akan selalu percaya.
Acara ini ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta, hingga akhirnya kantukpun tidak terasa...
Terimakasi ia.b (Inisiatif Arsitek Bandung)
Acara gratis yang menguntungkan ini perlu hadir sesering mungkin untuk kalangan kami yang masih buta tentang masa depan.
Tugas kemarin. Nama apartemennya emang Indonesia banget, tapi berharap dengan nama ini jadi keberuntungan buat huruf yang keluar di SINO dan anak upi pasti degdegan buka website ini. Alhamdulillah, hasilnya diluar dugaan :D
Terimakasih Bu Tutin yang telah memberikan banyak dorongan dan semangat untuk tetap menyadari diri sendiri bahwa siapa saya dan teman2 lain sebenarnya, karena bisa duduk di bangku studio perancangan arsitektur yang tanpa terasa sudah melewati angka 3 ini adalah suatu kebanggan tentunya. Jika melihat proses tentu akan menjadi sebuah cerita panjang yang sangat melelahkan, karena ini konsekuensi untuk hidup dalam dunia arsitektur.
Terimakasih juga kepada Bu Nitih yang telah dengan sabar dan gigih membimbing kami, walau setiap kali tatap muka yang saya dapatkan hanyalah perintah untuk revisi dan mempertimbangkan kembali desain yang saya buat. Entahlah, kenapa sepertinya desain itu tidak pernah sempurna, tapi dengan arahan yang beliau berikan, saya selalu termotivasi untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan tugas ini.
Itu baru 45% dari total gambar kerja yang dibuat, sisanya biarlah menjadi draft pribadi :D. Semoga apa-apa yg sudah saya kerjakan sampai saat ini menjadi sebuah pondasi dasar untuk pekerjaan saya di masa depan nanti. Karena perjalanan belum sampai pada tujuan dan entah kapan akan bisa sampai, karena intinya selalu ada keinginan untuk terus mencapai puncak, puncak diantara puncak-puncak. Mohon doanya dari yang baca yaaah hehe, aamiin.
See you on next post.
Terimakasih Bu Tutin yang telah memberikan banyak dorongan dan semangat untuk tetap menyadari diri sendiri bahwa siapa saya dan teman2 lain sebenarnya, karena bisa duduk di bangku studio perancangan arsitektur yang tanpa terasa sudah melewati angka 3 ini adalah suatu kebanggan tentunya. Jika melihat proses tentu akan menjadi sebuah cerita panjang yang sangat melelahkan, karena ini konsekuensi untuk hidup dalam dunia arsitektur.
Terimakasih juga kepada Bu Nitih yang telah dengan sabar dan gigih membimbing kami, walau setiap kali tatap muka yang saya dapatkan hanyalah perintah untuk revisi dan mempertimbangkan kembali desain yang saya buat. Entahlah, kenapa sepertinya desain itu tidak pernah sempurna, tapi dengan arahan yang beliau berikan, saya selalu termotivasi untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan tugas ini.
![]() |
| dan yg ini belum rampung wkwk |
See you on next post.
Alhamdulillah, tugas Teknik Komunikasi Arsitekturalnya selesai. Dari mulai mencari klien, mewawancarainya, sampai merancang sebuah hunian yang klien inginkan sudah beres dan bisa jadi tambahan buat portofolio juga nih.
Tugas ini diberikan dengan tujuan untuk melatih cara komunikasi baik secara verbal maupun visual karena pada dasarnya seorang arsitek adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari hubungan sosial antar sesama manusia dan lingkungan juga makhluk visual yang harus pandai dalam mempresentasikan hasil desainnya agar dapat dimengerti terutama oleh klien kita sendiri.
Tugas ini diberikan dengan tujuan untuk melatih cara komunikasi baik secara verbal maupun visual karena pada dasarnya seorang arsitek adalah makhluk yang tidak pernah lepas dari hubungan sosial antar sesama manusia dan lingkungan juga makhluk visual yang harus pandai dalam mempresentasikan hasil desainnya agar dapat dimengerti terutama oleh klien kita sendiri.
Tema Hunian : Industrial Modern
Luas tanah : 150 m2
Luas bangunan : 81 m2
Klien : Radita Adhitya Ludira
Arsitek : Esti Destikarani
Software: Auto CAD, Sketchup + Vray, Coreldraw, Photoshop
Software: Auto CAD, Sketchup + Vray, Coreldraw, Photoshop
![]() |
| Lembar Komunikasi Verbal |
Assalamu'alaikum wr. wb
Udah lama ga menengok blogger ini. Saat yang tepat juga buat bercerita karena banyak banget, banget, ba-nget sesuatu yang mesti kalian tau. Mungkin itu bakal aku ceritain di novel perdana aku yang nanti bakal launching ya doain aja semoga bukan sekedar angan semata. Sekarang cuma pengen curhat aja dikit.
Jadi gini, saat ini, kalo Tuhan bisa mengabulkan permintaan layaknya karakter Jinny di film Aladdin, satu hal yang aku minta adalah tolong berikan aku waktu. Iya, waktu. Waktu yang panjang, waktu yang bermanfaat, waktu yang dapat diulang, waktu yang benar-benar aku manfaatkan dengan baik. Mungkin emang aku kurang bersyukur orangnya teh :(
Karena setiap hal yang aku kerjakan pasti memiliki batas waktu, dan diantara itu selalu muncul penghambat. Apapun itu, yang menghambat tujuanku. Seperti saat ini..
Ya Alloh aku harus nugas dulu, Jumat ada deadline dan masih banyak yg belum dikerjain.
Dilanjut nanti ah wkwk
Rumah satu lantai dengan konsep modern standard ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan 2 anak. Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan dibangun sengaja tanpa sekat agar memberikan kesan luas pada bangunan itu sendiri. Untuk memberikan batasan ketiga ruang tersebut, diberikan level yang berbeda antara ruang makan dan ruang keluarga yaitu 20 cm dan penempatan rak buku pada area ruang tamu menuju ruang keluarga yang juga berfungsi sebagai partisi ruang.
Luas bangunan yang cenderung sempit, mengharuskan penggunanya memilih furnitur yang efisien dan menghemat ruang.
Luas bangunan yang cenderung sempit, mengharuskan penggunanya memilih furnitur yang efisien dan menghemat ruang.
Work In Progress : 20 %
Rumah Sangat Sederhana Sekali
HEHE. Libur lebaran selama dua minggu ini kerjaannya diem di kamar. Kamar itu spot yang indah buat melakukan apapun yang kita pengen ya ga? Jadi selama libur, selain tidur, saya juga nyalain laptop loh dan iseng bikin perancangan rumah sederhana. Tapi ini belum sempurna karena ada 3 ruang yang belum ada pencahayaan alami. Kalem guys, beberapa step lagi beres.
Bosan dengan kehidupan yang terang benderang? Butuh objek baru untuk target fotografi anda? Apa salahnya keluar malam dan berkeliling kota kita tercinta ini. Tapi ingat, usahakan jangan keluar sendirian khususnya buat cewek nih, kalo bisa bawa pacar atau kakak atau temen deket kek, kalo bisa yang bisa jagain kalo terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Bandung, dengan segala kekreatifan penghuni didalamnya, mengundang banyak wisatawan baik luar maupun dalam negeri yang tentu membuat Bandung semakin heurin. Hal ini membuat warga pribumi malas untuk keluar rumah selain untuk melakukan aktivitas rutin seperti bekerja, kuliah, atau sekolah, seperti saya. Selain menikmati langit malam, kita juga bisa menikmati megahnya arsitektur zaman kolonial Belanda dan arsitektur modern yang banyak terdapat di setiap penjuru kota.
Ini yang saya lakukan saat saya sedang bosan dengan rutinitas kampus. Kebetulan saat itu saya bawa kamera dan walaupun saya gabisa motret tapi momen untuk bisa merasakan hidupnya kembali kota ini bener-bener dapet!
Yang jelas malam itu adalah malam yang paling berkesan selama hidup di Bandung, cielaah
Bandung, dengan segala kekreatifan penghuni didalamnya, mengundang banyak wisatawan baik luar maupun dalam negeri yang tentu membuat Bandung semakin heurin. Hal ini membuat warga pribumi malas untuk keluar rumah selain untuk melakukan aktivitas rutin seperti bekerja, kuliah, atau sekolah, seperti saya. Selain menikmati langit malam, kita juga bisa menikmati megahnya arsitektur zaman kolonial Belanda dan arsitektur modern yang banyak terdapat di setiap penjuru kota.
Ini yang saya lakukan saat saya sedang bosan dengan rutinitas kampus. Kebetulan saat itu saya bawa kamera dan walaupun saya gabisa motret tapi momen untuk bisa merasakan hidupnya kembali kota ini bener-bener dapet!
Yang jelas malam itu adalah malam yang paling berkesan selama hidup di Bandung, cielaah
Arsitektur dan maket sangat erat hubungannya. Maket berguna sebagai sebuah prototype yang bisa menggambarkan dan memperlihatkan ide sang perancang. Tidak hanya memperhatikan soal desain, arsitek juga perlu memikirkan material apa yang harus digunakan dalam pembuatan maket itu sendiri.
Dalam pembuatan maket kali ini, saya dan partner, Rifa Faisyah, mengambil desain dan konsep utuh dari arsitek kenamaan dunia, Ben Van Berkel, yang karya-karyanya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Karya-karyanya yang kebanyakan berkonsep natural dengan bentuk yang cenderung melengkung membuat kami sedikit kewalahan, namun itu semua kalah dengan semangat kami demi tercapainya nilai yang sempurna.
Material yang kami gunakan untuk pembuatan maket ini adalah dupleks dengan ketebalan 2 mm. Bahan tersebut dirasa paling efektif untuk konsep bangunan yang kami pilih, yakni Mercedes-Benz Museum. Pembuatan maket dimulai dari mencetak pola dan bentuk-bentuk rangka bangunan, aksen-aksen kolom, dan proses finishing detail bangunan. Waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian keseluruhan maket kurang lebih 1 minggu.
Berikut dokumentasi pembuatan maket
Diberdayakan oleh Blogger.


































