Esti Destikarani

I am an Architect

Esti Destikarani

Only a place for express all thoughts into a set of indefinite letters. Hoping to be useful, but being self complacent is very meaningful for me. Thank you, to spend a few minutes just to open this site. Hopefully there's no regret and keep the "kepo" grows to read more articles or sharing stories that I've posted. Its an honor for me if you leave a trail by commenting below the posts. Happy reading and enjoy, Esti.

  • Bandung City
  • +62853-1455-5953
  • edestikarani@gmail.com
  • www.wap-jett.blogspot.co.id
Me

My Professional Skills

I am very good at making dreams but still not ready to wake up and achieve everything I have dreamed of. My time is always used to think about everything. Deeply imagining something satisfying. Because I think everything starts as a dream, but unfortunately its requires ACTION to become true.

AutoCad 80%
SketchUp 90%
Vray for Sketchup 80%
Adobe Illustrator 85%
Adobe Photoshop 85%
Corel Draw 90%
Microsoft Office 90%

Tentang Arsitektur

Kesoktahuan diri ini yang hanya ingin bercakap-cakap tentang arsitektur walaupun ilmunya belum ada apa-apanya. Sharing aja gimanah?

Tentang Travelling

Ah, ini sih cuman konten jalan-jalan biasa. Doain ya, semoga bisa "travelling beneran". Pasti di post deh :)

Curhat Session

Blog ini isinya 1% ilmu, 99% curhat. Jadi buat apa kalian datang haha. Gak deng bercanda. Terimakasih telah berkunjung, luv luv :*

Tentang Portofolio

Berusaha menjadi wanita yang produktif. Cobalah lihat keproduktifan diri ini. Semoga menghibur :')

Hanya Cerita Lampau

Bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarahnya. Begitupun kita sebagai manusia. Apadah wkwk

Artikel Bermanfaat

Nah yang ini semoga beneran bermanfaat ya.

0
Proyek Desain
0
design award
0
facebook like
0
current projects
  • This is Me

    This is Me

    Teman...

    Aku juga ingin bisa bermain bersama kalian, aku juga ingin menikmati keceriaan bersama kalian dengan berjalan-jalan, menikmati pemandangan, pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi, atau sekedar datang ke ulang tahun kalian. Tapi, aku merasa punya tanggung jawab yang besar atas semua jalanku. Aku terkadang berpikir bahwa ketika aku bersenang-senang, kedua orang tua ku bersedih. Ketika mereka bekerja keras untuk membiayai semua kebutuhan sekolah dan kuliahku yang tidak sedikit ini, aku malah menghambur-hamburkan uang yang seharusnya bisa aku pakai untuk membeli paket kuota, ngeprint tugas, membeli buku, dll. Walau dulu aku pun tidak hanya sekali dua kali melakukan itu, waktu masih jaman-jaman jahiliyah lahh. Entah kalian pikir aku ini apa wkwk. Anti sosial? Mungkin. Terlalu fokus pada karir? Mungkin. Terlalu sistematis? Mungkin.

    This is me..
    Yang merasa bahwa rumah adalah segalanya. Dan laptop adalah pasangan setia, daaaann..kamu? Siapa kamu? Haha.. Kamu jangan merasa khawatir takut tidak diperhatikan ya kalo nanti jadi jodoh aku. Wkwkwk. Karena kalau soal itu mah beda. Kalau kamu yang ngajakin main tiap hari, aku pasti mau dengan senang hati, walau tugas numpuk segunung hahaha.

    Mungkin hiburanku cukup dengan melihat foto-foto kalian yang penuh dengan keceriaan. Tanpa aku di foto itu. Mungkin hiburanku cukup di rumah atau di kosan dengan wifi dan secangkir kopi yang selalu setia menemaniku.

    Sorry..
    :*
  • Sayembara Rumah Panggung

    Sayembara Rumah Panggung

    Keisengan yang ke-sekian kalinya. Kekalahan yang kesekiankalinya juga :') Sayembara ini yang ngadainnya dari Kampu UnSri Palembang. Jadi ceritanya kita harus bikin sebuah bangunan rumah tinggal tapi konsep besarnya yaitu mengkinikan arsitektur rumah panggung. Indonesia sendiri kan punya banyak banget arsitektur rumah panggung, tiap daerah rata-rata rumahnya panggung, yang ngebedainnya kosmologi masing2 masyarakatnya. Nah dari situ ngaruh juga ke bentukan bangunan, bentukan atap, ketinggian bangunan, sirkulasi, denah, dllnya. Berhubung kita ada di tatar sunda, gak mungkin banget bikin rumah panggung yang ada di toraja kan. Nah, setelah melalui beberapa rangkaian proses berpikir, lahirnya kosnsep "Imah Jaman Now" ini. Rumah Panggung Sunda yang mampu mewadahi ekonomi kreatif pengrajin rotan di Kota Bandung. Rumah sekaligus workshop dan showroom beragam kerajinan yang terbuat dari rotan.
    Check this out..

        

     

  • Jenuh

    Jenuh

    Assalamualaikum, semua.

    Pengen curhat :(

    Kenapa ya akhir-akhir ini ko rasanya jenuh banget. Banget. Banget. Dan sepertinya muncul benih-benih ke-pesimis-an bakal lulus kuliah tepat waktu. Semester ini jujur aku belum ngerjain tugas kuliah efektif. Padahal nugas rasanya pengen banget. Pengen selangkah dua langkah lima langkah lebih maju daripada yang lain. Pengen semua tersistem lagi dengan baik. Pengen semua tugas dikerjain maksimal. Tapi apa daya Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih milih aku ngerjain yang lain, mungkin bermanfaat bagi aku menurut-Nya. Ayolah.. aku kuliah aja harus nunggu setaun. Masa lulus kuliah aku harus nunggu lagi setaun. Gapapa sih, gaada salahnya juga. Cuma gimana caranya bujuk orangtua buat mau bayar biaya kuliah yang MAHAL ini ya Allah :( Kasian dipikir. Cari uang, kerja, udah pernah nyobain, niatnya buat bantu2 orang tua biar gak usah ngasih uang mingguan, tapi hasilnya gak seberapa, yang ada malah cape dan tugas jadi tumbalnya. Yaa..begitulah..

    Sebenernya semua itu gara2 otak aku udah terdoktrin bahwa kuliah itu hanya 4 tahun. 4 tahun itu harus udah lulus, gak boleh ngga. Padahal buat apa lulus cepet tapi kita gak ngerjain apa2 sama sekali. Ada yang bilang juga masa-masa kuliah itu harus dimanfaatin bener-bener karena masa kuliah itu kita bisa bebas berbuat kesalahan, karena saat kita bikin salah, orang bakal bilang "ah..namanya juga mahasiswa". Wkwkwk jadi mahasiswa terlalu asyik.

    Tapi iri juga sih sama orang yang hidupnya serba berjalan mulus. Dari SD mulus, SMP di sekolah yang bagus, SMA masuk SMA favorit, kuliah di PTN Negeri terkemuka, lulus tepat waktu, cumlaude, langsung dapet kerja, dll. Kalian yang kaya gitu dikasih makan apa sih sebenernya? Ko hidup kaya gak ada lika-likunya. Ko kaya yang di atas terus haha seolah kehidupan kalian bukan roda.

    Haha iya sih aku ngerti, setiap orang punya garisnya masing-masing. Mungkin garis hidup kita berbeda ya. Tapi semua itu tergantung kitanya juga sih. "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri". ^^

    Ujian itu datangnya dari Allah, yang memberi kekuatan untuk menghadapi ujian juga dari Allah. Tugas kita hanya berdoa dan berikhitar. Karena sabar tanpa ikhtiar bukan sabar namanya :')
    Udah segitu aja. Aku mau lanjut nugas, eh bukan ngerjain yang lain maksudnya.
    Semangat buat kalian yang masih mahasiswa, khususnya pasukan mahasiswa arsitektur yang berani die. Haha. Selamat menikmati hidup..

    Wassalamualaikum..
  • Kadang...

    Kadang...


    Kadang kita gabisa milih, mau berteman dengan manusia seperti apa, watak yang bagaimana, dan cara mereka memperlakukan kita gimana. Kadang kita juga terlalu jauh untuk berbuat baik kepada siapa saja, dengan memberikan gula gula manis yang kita punya pada mereka. Padahal mereka hanya semut yang kelaparan. Sedangkan kita semakin kurang gizi karena gula sebagai asupan energi dirampas oleh mereka.

    Kadang kita terlalu jauh untuk berangan-angan. Mengharapkan gula balasan dari mereka. Tapi mereka lupa, dirinya hanya semut, tak bisa memperoleh gula. Hanya bisa mengambil asupan makanan yang tergeletak di atas meja. 

    Kadang kita manusia, lupa bagaimana membahagiakan diri sendiri. Sampai rela berkorban untuk orang lain. Tapi orang lain, belum tentu mau melakukan hal yang sama dengan kita. Terkadang, memilih-milih teman untuk kebahagiaan itu baik. Asal jangan termakan bujuk rayu mereka yang terkesan manis di awal, tapi pahit belakangan.

    Terkadang, lebih baik pergi dari pada bertahan tapi menyakiti diri sendiri...
  • Mahasiswa Tingkat Akhir

    Mahasiswa Tingkat Akhir

    "Gak kerasa, sekarang udah semester 7 lagi. Perasaan kemarin baru masuk, perasaan kemaren baru Mokaku, perasaan kemaren baru diPAB, perasaan baru kemarin..."

    Yah, begitulah rasanya menginjak semester tujuh yang tinggal menghitung jam lagi. Terkadang rasanya aneh, kok bisa sampai sejauh ini ya? Padahal dulu rasanya berat banget. Ngerjain tugas yang gak ada habisnya, yang makin sini makin berat rasanya, yang gak pulang-pulang demi survey dan bikin mall, yang ngabisin banyak biaya buat beli peralatan maket, yang bolak balik tukang servis laptop buat install ulang biar laptopnya gak lemot demi bisa bikin animasi dan render, dann masih banyak lagi hal yang begitu terasa berat tapi sungguh itu berlalu dengan begitu saja. Ya Allah, rasanya aku harus banyak terimakasih. Karena Engkau sudah banyak memberikan aku kenikmatan tapi aku terkadang lupa untuk mengucap syukur :')

    Suka sedih...

    Sekarang perjuangan aku sekarang lagi berusaha buat nyelesein laporan kerja praktik. Semoga bisa selesai di pertengahan bulan September ini biar cepet diseminarin. Ya Alloh, bantu aku lagi :'((


  • Menjadi Ibu Rumah Tangga

    Menjadi Ibu Rumah Tangga

    Ini sudah hari ke empat ketika ibu dan kakak laki-lakiku satu-satunya pergi mengunjungi saudara ke luar kota. Awalnya aku dipaksa untuk ikut, namun setelah dipikir-pikir aku akan ketinggalan jauh sekali bila aku bolos kerja. Kini aku sedang menjalani praktik kerja profesi di salah satu konsultan perencana di Bandung. Meskipun perusahaan ini perusahaan swasta yang aturannya tidak terlalu ketat dan bisa-bisa saja meminta izin mengambil cuti selama seminggu untuk menghadiri acara pernikahan saudara sepupu, namun tugas yang diberikan lumayan menyita waktu. Belum lagi ada kejar tayang membuat laporan praktik kerja. Mungkin akan sulit mengejar bila aku melupakan tugas-tugasku selama seminggu. Jadi aku putuskan untuk diam di rumah bersama ayahku yang juga tidak punya jatah cuti bekerja.

    Awalnya aku akan berfikir biasa saja ketika ditinggal mereka. Karena aku sudah pernah merasakan seminggu bahkan dua minggu sama sekali tidak menatap wajah keluargaku. Lokasi rumah yang cukup jauh dari kampus membuatku lelah sehingga aku memutuskan untuk mengekost. Mungkin pengalaman ini juga membuat aku lebih mandiri dan bisa bertahan hidup dengan tenaga dan usahaku sendiri. Namun, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat aku tahu bahwa keluargaku berada pada lokasi yang jauh...

    Aku semakin mengerti...

    Bahwa...

    Menjadi seorang ibu itu sulit...

    Kepergian ibu untuk sementara waktu membuatku harus menggantikan posisi ibu di rumah. Mulai dari bangun subuh, membangunkan ayahku, membuat masakan untuk sarapan, membuatkan kopi, membersihkan seluruh rumah, belanja ke warung, menyiram tanaman, menyapu halaman, mencuci piring, mencuci baju, menjemur pakaian, menyetrika pakaian, memasukkannya ke dalam lemari, menyalakan pompa air, memasak untuk makan siang, malam, dan menanak nasi, semuanya aku lakukan sendiri. Terkadang aku tidak bisa melakukan aktifitas apapun karena waktuku habis untuk mengurus rumah. Aku tidak sempat mengerjakan pekerjaan kantorku karena aku terlalu lelah dan aku tertidur hingga pagi tiba. Bahkan aku tidak bisa bertemu dengan teman-temanku karena aku takut pekerjaan rumahku akan terbengkalai. Membalas pesan masuk pun terkadang 3-4 jam setelah pesan diterima.  Semua ini rasanya seperti benar-benar berumah tangga.

    Apa yang aku rasakan kini dengan kehidupan kostku sangatlah berbeda. Saat kost, aku hanya perlu mengurus diriku sendiri dan ruangan berukuran 2,5 x 2,5 m2. Tak banyak yang harus aku lakukan. Bahkan tak membereskan kamar kost dalam seminggu pun rasanya tak ada yang perlu dipermasalahkan. Kamar tetap terasa bersih. Tapi di rumah, tidak disapu sehari saja, rasanya lantai seperti berpasir dan kotor. Piring dan peralatan makan cepat sekali bertumpuk menunggu untuk dibersihkan. Daun-daun kering selalu berguguran di halaman. Pakaian kotor menumpuk. Makanan belum siap karena tidak ada bahan masakan. Semuanya terasa lima kali lipat lebih berat.

    Ibu jika aku tahu ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang ibu, nampaknya ibu perlu berlibur tiap seminggu sekali. Berlibur dari rutinitas yang bukan hanya membutuhkan kekuatan fisik, tapi juga kecerdasan otak. Bagaimana tidak. Aku sangat kebingungan hanya untuk mengatur menu makan karena keterbatasanku yang belum pandai dan ahli memasak. Tapi ibu sama sekali tidak pernah bingung akan makan apa nanti. Bahkan terkadang ibu selalu menyiapkan menu-menu spesial yang tak terduga dan nikmatnya luar biasa. Nampaknya aku perlu banyak belajar menjadi ibu. Dengan kesabaran dan ketangguhan yang engkau miliki.

    Ibu..

    Dirimu begitu hebat..

    Aku semakin sadar dan melihat dengan jelas akan dosa-dosaku karena sering melalaikan perintah ibu untuk melakukan pekerjaan rumah. Padahal sangat berat rasanya bila semua dilakukan sendiri. Maafkan aku, Bu...

    Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Semoga ibu dan bapak sehat selalu dan diberikan kebahagiaan, kesejahteraan, dan anak-anak yang sholeh dan sholehan oleh-Nya yang selalu mendoakan kalian. Aamiin.

    Have a nice trip, Bu, A.





  • Lelah ini...Kapan usai

    Lelah ini...Kapan usai


    Langkah demi langkah yang telah kulalui ternyata telah sampai di ujung perjuangan. Tanpa sadar aku sudah menginjak tingkat akhir studiku. Dulu yang ku ingat aku masih polos, memakai seragam hitam putih untuk mengikuti ospek kampus. Berangkat subuh dan pulang malam dengan wajah lusuh. Tak jarang aku menitikan air mata atas pedihnya perjalananku. Lelah, namun aku bahagia. Karena tak semua bisa merasakan indahnya mencari ilmu.

    Dan aku merindukan suatu hari, saat kedua orangtuaku memeluk dan menciumku ketika aku mengenakan toga dan saat itu pula aku merasa bahwa aku ingin sekali menjadi seperti mereka. Berhasil memberikan pendidikan yang terbaik bagi kedua anaknya. Tanpa kenal lelah. Tanpa terdengar keluh. Semoga apa yang kukejar selama ini dapat membuktikan bahwa aku terlahir untuk membahagiakan mereka dan untuk membuat mereka bangga. 

    Semoga semuanya diberi kelancaran..
    Aamiin..


  • Agar Tak Menjadi Buih

    Agar Tak Menjadi Buih


    Agar tak menjadi Buih
    (Sebuah Instropeksi diri)

    Tulisan bagus dari alumni ITB yg lg ngambil Phd di US.

    Oleh: Zulkaida akbar

    Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

    Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

    Kawan2 di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

    Kathrina memang berbeda dengan kawan2 sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me"Like" berita2 republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

    Bagaimana dengan Si Indonesian?Mudah diterka, karena  Bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube  nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan2nya di group WA.

    Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siang nya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

    Beberapa saat kemudian, ketika kami sama2 menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia "normal" juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
    ..............

    Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

    Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

    Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :"If I can work as hard as you, I will rock the world." Si Indonesian kemudian menjawab :"If I can work as efficient as you, I  will also rock the world."

    Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia "klaim", terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

    Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

    Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

    Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

    Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

    Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

    .............

    Bagaimana dengan Amerika?

    Sekarang sedang demam Pokemon-Go, Game yang diprediksi kelak akan sepowerful Facebook, Sampai ada tulisan "Macroeconomic analysis of Pokemon Go". Nyatanya, meski si pokemon didapat dari Nintendo (jepang) namun basis google earth dan augmented reality nya dari Amerika.

    Dan semua trend semisal data science, uber, big data, crowdfunding, AirBnB, Tesla sampai flying car juga berasal dari Amerika.

    Kekuatan Amerika terletak pada keberaniannya untuk mencipta apa yang belum ada. Meski kesenjangan disini sangat tinggi, Amerika punya orang2 dengan kreatifitas dan keberanian luar biasa untuk mencipta sesuatu yang sama sekali baru.

    Tengoklah keberanian leslie dewan, pemudi lulusan MIT yang mendirikan perusahaan pembangkit Nuklir yang menjanjikan terobosan2 teknologi dalam usia yang belum genap 30 tahun (transatomic energy). Tentu tengok pula keberanian venture capital yang mendanainya.
    .............

    Bagaimana dengan China?

    Dua nama yang saling bertegur sapa dengan Si Indonesia, dini hari di Nuclear Research Building adalah Wei Cha dan Jun Ji.

    Memang tidak ada yang meragukan etos dan jam kerja sang Naga.
    .............

    Mantra?

    Almarhum Prof. Iskandar Alisjahbana, rektor ITB yang legendaris tersebut terkenal dengan jargon dan visinya untuk "MenYahudikan Pribumi".

    Tapi si Indonesia punya mantra yang lain : Jam Kerja China, Efisiensi Jerman, Kreatifitas dan Keberanian Amerika.
    ............

    Epilog? Berbagai padahal.

    Apa kaitannya dengan judul postingan : Agar tak menjadi buih?

    Merupakan nubuwat Kanjeng Nabi bahwa Umat Islam ini jumlahnya banyak, tapi ibarat buih; tak berkualitas.

    Padahal..
    Dalam surat Al Ashr Allah bersumpah demi sang waktu.

    Padahal..
    Orang Sholeh dulu jika siang ibarat singa dan jika malam ibarat Rahib (pembagian waktu yang clear, distinct).

    Padahal..
    Bagian dari iman adalah menjauhi hal yang sia sia (selalu produktif).

    Padahal..
    Kanjeng Nabi sudah memperingatkan kalau nikmat yang sering terlupakan adalah waktu luang, kesempatan (Nasihat untuk deadliner seperti saya).

    Padahal..
    Allah sudah mempersilahkan/menantang hamba-Nya untuk menembus langit, dan tidaklah kita dapat menembusnya "illa Bi Shulthon" , kecuali dengan kekuatan/ilmu pengetahuan (Keberanian untuk mencoba, termasuk hal2 yg sebelumnya belum pernah ada).

    Padahal..
    Dalam surat Al Inshirah Allah berfirman : "Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh2 (Urusan yang lain)."   (Perintah untuk tidak menunda2).
    ...........

    Maka si Indonesia yang beragama Islam ini pun kemudian berpikir bahwa tidaklah perlu menjadi Jerman, China, atau american.

    Cukup menjadi Islam saja.

    Si Indonesia ini juga tersadar, bahwa mengubah peradaban mustahil tanpa mengubah diri sendiri.

    Gagasan memang Memiliki kuatan, namun Keteladanan jauh lebih kuat dibanding gagasan.

    Dan Allah mencintai Hamba-Nya yang produktif (self reminder).

    Semoga tangan ini dapat merengkuh dunia, namun tidak satu biji zarah pun masuk ke hati.
  • Duhai Habibie

    Duhai Habibie

    Habibie...
    Jauh di kehidupan sana kamu merindukan sosok yang kelak akan mendampingi hari-hari tua bersamamu, yang rela menghabiskan waktu dan pengorbanannya demi patuh kepadamu. Dia yang selalu engkau doakan dalam setiap sujudmu dan yang selalu kau tunggu kehadirannya. Wahai engkau yang begitu sholeh, jangan lagi terpengaruh dengan tipu daya dunia, teguhkanlah imanmu, teruslah berjuang demi agama. Lupakanlah beban berat yang menghantui pikiranmu. Perjuangan itu takkan sia-sia jika apa yang selalu kau lakukan semata-mata adalah untuk mencari ridho-Nya.

    Kelak akan hadir wanita yang sama sepertimu. Wanita yang dikirimkan sebagai "ainun" untuk kamu "habibie". Bersabarlah, teruslah berdoa. Bersama ainun, takkan pernah kau rasakan pahitnya hidup. Bersamanya kau akan selalu nyaman dan bersyukur. Jadilah sebaik-baiknya manusia yang selalu mencari ridho Illahi.


  • Diberdayakan oleh Blogger.

    GET A FREE QUOTE NOW

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat.

    ADDRESS

    Bandung City, Indonesia

    EMAIL

    edestikarani@gmail.com

    MOBILE

    +62 859 5006 9490

    LINE

    estides